Saturday, September 16, 2017

Kumpulan Puisi 1.1

Kenyataan Hidup
Layaknya seekor anak burung
Ketika ia beranjak dewasa
Ketika itu pula sang induk melepasnya
Terombang-ambing seorang diri
Langit pun diam..
Angin pun bungkam..
Terbang mencari tujuan
Menggapai harapan
Sejak usia tiga tahun
Seorang anak dari perantauan
Hidup sendiri..
Lantaran ayah dan ibunya pergi
Hingga ke negeri orang
Hanya untuk menjemput rizki tuhan
Buang saja kebahagaiaan
Agar dunia tahu…
Agar alam faham…
Kenapa harus uang.. kenapa harus uang?
Iya.. kenapa uang yang menentukan

Untukmu Pejuang
Gentar..
Tak gentar..
Berlalu masa silam
Bukan hanya keringat
Namun darah rela bercucuran
Nyawa jadi taruhan, harta tak dihiraukan
Berjuang..
Berperang..
Mengusir para pecundang
Yang datang merebut kekayaan alam
Tapi..
Ketika pejuang berhasil menang
Justru masa tua tidak ada jaminan
Tak sedikitpun mereka dendam
Namun mereka bangga
Sanggup memberi..
Sanggup membagi..
Ketentraman dan kenyamanan
Kehidupan saat ini
Yang sedang kita nikmati

Tergerus Zaman
Merdu nyanyian alam
Berpadu angin yang datang
Pohon, burung, ikan, bahkan beruang
Seakan menambah indah suara alam
Sedih..
Sayang seribu sayang
Keindahan itu tak dapat kita nikmati lagi
Pembangunan menggusur kesejukan
Indah alam perlahan menghilang
Pohon berganti gedung
Rumput berganti jalan
Hanya panas yang terasa
Bukan indah yang didamba
Bumi merapuh menahan beban
Hingga alam yang jadi tak seimbang

Sunday, September 10, 2017

Kumpulan Puisi

Kerinduan
Bukan tetang rasa yang tak tersampaikan
Akan tetapi biskan hati yang tersimpan
Aku diam karena tak pernah kau gambarkan
Seiris rindu berbalut pilu
Terbias semu sendu senyummu
Bukan…
Bukan tentang rindu yang tak tersampaikan
Namun harapan yang ingin mengatakan
Sudikah kau sedikit menggambarkan
Isi hati yang penuh pengharapan

Tirai Hati
Dibalik malam tersimpan indah sang bulan
Kehadirannya seakan menambah ketenangan
Begitupun hati…
Tirai yang menutup tak selamanya akan tertutup
Akan ada saat dimana sang hati akan mencari
Pembuka tirai untuk hati yag sepi
Seorang Insan yang siap untuk berpijak
Seyogyanya kodrat telah bersajak
Sang rusuk butuh sang punggung untuk menapak


Gelisah Menanti
Bukan…
Bukan langit yang meredup
Namun matahari yang menjauh
Pohon senantiasa menanti
Hingga kelak sang burung datang
Siap menemani…
Siap menghampiri…
Dan membangun sangkar
Lalu menetap didalamnya

Percaya
Angin tak lagi sanggup berhembus
Rumput tak mau lagi menari
Begitulah…
Seorang adam
Rela berjalan ke ujung dunia
Untuk menemukan kembali sang hawa
Begitulah
Kini seorang manusia biasa
Senantiasa menyembunyikan isi hati
Namun tetap menanti
Lantaran ia percaya
Takkan selamanya tirai itu menutupi hati sang dinanti

Pengharapan Yang Hampir Pupus
Dedaunan meratap pasrah
Menginginkan kepastian
Matahari mulai meredup
Udara mulai menyejuk
Laksana angin bertiup
Menjatuhkan dedaunan yang tenang
Seorang insan yang penuh pengharapan
Hampir putus asa karena tak pernah digambarkan
Matahari terbit seakan mengingatkan
Bahwasanya hariesok pasti akan datang